Darah dan Doa di Atas Arena: Filosofi Kosmologis Peresean Sasak

|

Peresean bukan sekadar tontonan adu ketangkasan fisik yang mempertemukan dua lelaki Sasak di atas arena, melainkan sebuah manifestasi kosmologis yang mempertemukan maskulinitas, spiritualitas, dan resolusi konflik substantif. Tradisi luhur masyarakat Sasak di Pulau Lombok ini secara historis berakar dari ritus teofani untuk memohon hujan kepada Sang Pencipta, sekaligus medium katarsis bagi para prajurit pasca-peperangan zaman kerajaan (Solikatun dkk., 2019). Ketika rotan yang disebut penyalin dihantamkan ke atas perisai kulit sapi yang disebut ende, bunyi deburan tersebut tidak sedang merayakan kekerasan, melainkan sedang menggetarkan langit untuk menurunkan rahmat-Nya, sekaligus menguji sejauh mana kedalaman jiwa seorang pepadu (petarung Peresean) dalam mengendalikan ego hewani di dalam dirinya (Asyari, 2022).

Secara filosofis, kelengkapan yang dikenakan oleh seorang pepadu mengisyaratkan harmoni antara makrokosmos dan mikrokosmos. Penutup kepala berupa kain ikat bernama sapuq bertindak sebagai mahkota simbolis yang menegaskan bahwa seorang lelaki harus mampu mengikat dan mengendalikan pikiran-pikiran kotornya sebelum melangkah ke medan laga (Khotimah, 2025). Sebaliknya, kain sarung atau kereng yang melilit bagian bawah tubuh melambangkan nilai ketundukan, kesederhanaan, dan kerendahan hati bahwa sekuat apa pun kaki berpijak, manusia tetaplah berasal dari tanah yang bersahaja. Ketika pertarungan dimulai di bawah pimpinan pakembar (wasit), benturan antara kekuatan penyalin yang fleksibel namun mematikan dengan keteguhan ende merefleksikan dualitas kehidupan: cobaan yang datang bertubi-tubi dan ketahanan iman yang harus membentenginya (Sutama, 2021).

Daya pikat terdalam dari Peresean justru lahir ketika tetesan darah mengalir di atas tanah arena. Di titik itulah, sebuah paradoks kultural yang indah terjadi; darah yang tumpah tidak melahirkan dendam membara, melainkan membasuh sisa-isa kesombongan (Zuhdi, 2018). Begitu peluit panjang pakembar berbunyi, kedua pepadu seketika menjatuhkan senjatanya dan saling berpelukan erat dengan senyuman yang tulus. Peresean mengajarkan institusionalisasi konflik yang elegan, sebuah kearifan lokal dalam menyelesaikan gesekan sosial secara jantan di dalam lingkaran laga, untuk kemudian selesai tanpa menyisakan bara di luar kalangan (Asyari, 2022). Nilai sportivitas, kejujuran menghadapi rasa sakit, serta pelapukan ego inilah yang mentransformasikan tarian cambuk rotan ini dari sebuah fragmen pertempuran menjadi sebuah madrasah kehidupan tentang arti persaudaraan sejati yang melintasi batas fisik manusia Sasak (Sutama, 2021).

Rujukan

  • Asyari, A. (2022). Nilai-Nilai Sosial di Balik “Konflik dan Kekerasan”: Kearifan Suku Sasak dalam Tradisi Mbait dan Peresean. Jurnal Penelitian Keislaman, 18(2), 101-114.
  • Khotimah, H. (2025). Makna dan Filosofi Pertunjukan Tradisi Peresean pada Masyarakat Sasak Lombok. SOCED SASAMBO: Journal of Social Education Sasambo, 3(01), 40-45.
  • Solikatun, S., Karyadi, L. W., & Wijayanti, I. (2019). Eksistensi Seni Pertunjukan Peresean pada Masyarakat Sasak Lombok. SANGKéP: Jurnal Kajian Sosial Keagamaan, 2(1), 1-12.
  • Sutama, I. W. (2021). Pendidikan Karakter dalam Permainan Tradisional Sasak Peresean. Jurnal Pendidikan Agama dan Budaya, 5(1).
  • Zuhdi, M. H. (2018). Kearifan Lokal Suku Sasak sebagai Model Pengelolaan Konflik di Masyarakat Lombok. MABASAN, 12(1), 64-85.